Ads 468x60px

Rabu, 29 Februari 2012

Mega Bazaar Ingin Jadi Ajang Pameran Teknologi Tapi...

Mega Bazaar
JAKARTA, KOMPAS.com - Mega Bazaar Computer (MBC) kembali digelar di Jakarta dan serentak di empat kota besar lainnya di Indonesia mulai 29 Februari hingga 4 Maret 2012. Ajang pameran tahunan ini tidak ingin hanya dianggap sebagai ajang jualan produk TI saja, tetapi berharap nantinya bisa disejajarkan dengan pameran TI di luar negeri.

Chief Operation Officer Dyandra Promosindo, Bambang Setiawan menjelaskan selama ini vendor dan perusahaan yang mengikuti ajang MBC memang melakukan penjualan produk secara retail atau istilahnya penjualan secara business to consumer (B to C). Sementara pameran di luar negeri, cenderung ke business to business (B to B).

"Kami tidak ingin pameran ini dianggap sebagai ajang jual beli produk saja, tetapi ingin juga seperti pameran di luar negeri yang memamerkan teknologi terbarunya," kata Bambang selepas konferensi pers di Jakarta Convention Center di Jakarta, Rabu (29/2/2012).

Masalahnya, untuk bisa membuat pameran TI seperti di luar negeri, pihak penyelenggara pameran memiliki kendala terutama dari sisi vendor. Biasanya, vendor di Indonesia hanya bersifat dealer atau kantor representatif yang tidak berwenang mengeluarkan produk terbaru di ajang pameran di Indonesia.

Sementara pameran di luar negeri, vendor-vendor di sana langsung bisa berhubungan dengan kantor pusat vendor. Sehingga peluncuran produk terbaru atau pengenalan teknologi terbaru bisa dilakukan di ajang pameran tersebut.

Misalnya, seperti ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas, CommunicAsia di Singapura atau bahkan Mobile World Congress (MWC) yang saat ini berlangsung di Barcelona Spanyol.

"Kami sudah mulai pameran sejak 1998. Secara perlahan, vendor mulai percaya dengan kami. Harapannya, vendor tersebut bisa meminta ke kantor pusatnya untuk bisa menyelenggarakan peluncuran produk di Indonesia," katanya.

Di sisi lain, Indonesia selama ini memang belum dipandang sebagai pasar yang besar bagi dunia TI. Pasar Indonesia selama ini masih kalah dibandingkan pasar China dan India yang memiliki jumlah penduduk lebih banyak dan daya beli produk TI yang lebih tinggi.

"Vendor biasanya masih melihat pasar Amerika Serikat, lalu Asia terutama China dan India. Tapi secara perlahan, pasar Indonesia mulai dilihat, terutama setelah peluncuran BlackBerry untuk pertama kalinya di dunia beberapa waktu lalu," jelasnya.

Perlu dukungan pemerintah
Untuk bisa menyelenggarakan kegiatan pameran TI seperti di luar negeri, pihak penyelenggara pameran meminta kepada pemerintah untuk mendukung kegiatan yang selama ini dilakukan. Pasalnya, pameran-pameran TI selama ini belum didukung secara penuh oleh pemerintah.

"Misalnya kemudahan dalam perizinan lokasi pameran, izin barang masuk, bea cukai. Kita perlu dukungan itu," kata Bambang,

Padahal, jika pameran TI di luar negeri, negara setempat mengemasnya ke dalam salah satu destinasi wisata khusus. Sehingga akan menambah pendapatan negara, khususnya dari sisi MICE (meeting, incentive, convention and exhibition).

"Di luar negeri, mulai kita turun dari bandara, sudah ada iklan tentang pameran TI tersebut sampai ke lokasi acara. Itu semua bebas pajak. Di sana kita akan ditawarkan hotel, restoran, makanan, destinasi wisata dan lain-lain, sehingga pajaknya juga masuk ke negara," tambahnya.

Sumber : KOMPAS.com

Artikel Terkait


0 comments :

Posting Komentar